Serba Serbi tentang Enzim

Enzim aadalah golongan protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk reaksi-reaksi kimia di dalam sistem biologi dan banyak terdapat dalam sel hidup. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat diperoleh dengan ekstraksi dari jaringan tanpa merusak fungsinya. Reaksi-reaksi seperti hidrolisis dan oksidasi berlangsung sangat cepat di dalam sel-sel hidup pada pH kira-kira netral dan pada suhu tubuh. Ini dapat terjadi karena adanya enzim. Sebagai katalisator, enzim berbeda dengan katalisator anorganik dan organik sederhana yang umumnya dapat mengatalisis berbagai reaksi kimia. Enzim mempunyai spesifitas yang sangat tinggi, baik terhadap reaktan (substrat) maupun jenis reaksi yang dikatalisiskan. Pada umumnya, suatu enzim hanya mengatalisis satu jenis reaksi dan bekerja pada suatu substrat tertentu (Sirajuddin, 2014).
Enzim dapat dibedakan antara beberapa jenis spesifisitas enzim, yaitu (Page, 1989):
a. Enzim gugus-spesifik
Enzim yang bekerja pada suatu jenis gugus fungsional tertentu merupakan hal biasa. Enzim-enzim seperti tripsin, kimotripsin dan pepsin adalah gugus spesifik dalam hal katalisasi hidrolisa suatu ikatan peptide antara sejumlah pasangan asam amino yang berbeda.
b. Enzim stereospesifik
Banyak enzim mengadakan interaksi dengan zat-zat aktif optik yang hanya satu di antara enansiomernya bereaksi sebagai substrat. Enzim demikian dikatakan bersifat stereospesifik. Enzim yang gugus spesifik mungkin saja menunjukkan juga stereospesifisitas. Daya kerja enzim stereospektif memerlukan tiga tempat untuk interaksi dengan molekul substrat. Persyaratan struktural suatu substrat untuk dapat bereaksi dengan gugus spesifik adalah:
1. Mata rantainya reaktif atau gugus fungsional.
2. Gugus pengikatannya atau pengarahnya.
3. Gugus pengikat tambahan atau gugus pengarah.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim, yaitu (Marzuki dan Amirullah, 2011)
a. Konsentrasi enzim
Kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasi enzim tersebut. Pada konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim.
b. Konsentrasi substrat
Kompleks enzim substrat, kontak ini terjadi pada suatu tempat atau bagian enzim aktif enzim. Pada konsentrasi substrat rendah, bagian aktif enzim ini hanya menampung substrat sedikit. Bila konsentrasi substrat diperbesar, makin banyak substrat yang dapat berhubungan dengan enzim pada bagian aktif tersebut, dengan demikian konsentrasi enzim substrat makin besar dan hal ini menyebabkan makin besarnya kecepatan reaksi. Tetapi suatu batas konsentrasi substrat tertentu, semua bagian aktif telah dipenuhi oleh substrat dalam keadaan ini bertambah besarnya konsentrasi substrat tidak menyebabkan bertambah besarnya konsentrasi enzim substrat sehingga jumlah hasil reaksinnya pun tidak bertambah besar.
c. Pengaruh suhu
Reaksi kimia dapat dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu rendah, reaksi kimia berlangsung lambat, sedangakan pada suhu tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. Enzim adalah protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Apabila terjadi proses ini, maka bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan menurun.
d. Pengaruh pH
Protein pada umumnya, struktur ion enzim tergantung pada pH lingkungannya. Enzim dapat membentuk ion positif, ion negatif atau bermuatan ganda (zwitter ion). Dengan demikian perubahan pH lingkungan akan berpengaruh terhadap efektivitas bagian aktif enzim dalam membentuk kompleks enzim substrat. Di samping itu, pH rendah atau pH tinggi dapat pula menyebabkan terjadinya denaturasi dan mengakibatkan menurunnya aktivitas enzim. pH optimum merupakan pH di mana kecepatan reaksinya paling tinggi.
Beberapa enzim hanya terdiri atas protein, tetapi kebanyakan enzim mengandung komponen nonprotein tambahan seperti karbohidrat, lipid, logam, fosfat atau beberapa bagian organik yang lain. Enzim lengkap disebut holoenzim, bagian protein (apoenzim) dan bagian nonprotein (kofaktor). Dalam reaksi enzim, substrat bergabung dengan holoenzim dan dilepas dalam bentuk dimodifikasi. Beberapa enzim industri yang dipakai secara tradisional (misalnya rennet dan papain) dibuat dari sumber hewan dan tumbuhan. Perkembangan akhir-akhir ini dalam produksi enzim industri menekankan pada enzim mikroba (Frast 1986). Enzim mikrobasangat tahan panas dan pH-nya lebih lebar. Kebanyakan enzim dibuat dengan cara pembiakan bawah permukaan galur mikroorganisme yang sangat dikembangkan. Perkembangan dalam bioteknologi memungkinkan mengalihkan gen untuk pembuatan enzim khas ke mikroorganisme lain (Deman, 1997).
Adapun penggolongan enzim sebagai berikut (Marzuki dan Amirullah, 2011):
1. Oksidoreduktase
Enzim yang termasuk dalam golongan ini dapat dibagi dalam dua bagian yaitu, dehidrogenase dan oksidase. Dehidrogenase bekerja pada reaksi-reaksi dehidrogenase, yaitu reaksi pengambilan atom hydrogen dari suatu senyawa (donor). Hidrogen yang dilepas diterima oleh senyawa lain (akseptor). Contohnya, reaksi pembentukan aldehid dari alkohol. Enzim-enzim oksidase bekerja sebagai katalis pada reaksi pengambilan hydrogen dari suatu substrat. Dalam reaksi ini bertindak selaku akseptor hydrogen ialah oksigen. Contohnya enzim glukosa oksidase bekerja sebagai katalis pada reaksi oksidasi glukosa menjadi asam glukonat.
2. Tranferase
Enzim pada golongan ini bekerja sebagai katalis pada reaksi pemindahan suatu gugus dari senyawa kepada senyawa lain. Contohnya, yaitu metiltransferase bekerja pada reaksi pembentukan keratin dari asam guanido asetat, hidroksimetil transferase bekerja pada reaksi pembentuk glisin dari serin, reaksi ini merupakan reaksi pemindahan gugus hidroksi metal dan enzim transaminase bekerja pada reaksi transaminasi yaitu suatu reaksi pemindahan gugus amino dari suatu asam amino kepada senyawa lain.
3. Hidrolase
Enzim pada golongan ini bekerja sebagai katalis pada reaksi hidrolisis. Ada tiga jenis hidrolase yaitu memecah ikatan ester, memecah glikosida dan memecah ikatan peptide. Contohnya, esterase yaitu enzim yang memecah ikatan ester dengan cara hidrolisis. Esterase yang terdapat dalam hati dapat memecah ikatan ester sederhana, misalnya etil butirat menjadi etanol dan asam butirat.
4. Liase
Enzim golongan ini mempunyai peranan penting dalam reaksi pemisahan suatu gugus dari suatu substrat. Enzim golongan ini antara lain, dekarboksilase, aldolase dan hidratase. Enzim piruvat dekarboksilase adalah enzim yang bekerja pada reaksi dekarboksilasi asam piruvat dan menghasilkan aldehid. Enzim aldolase adalah enzim yang bekerja pada reaksi pemecahan molekul fruktosa 1,6-difosfat menjadi dua molekul triosa yaitu, dihidroksi aseton fosfat dan gliseraldehid-3-fosfat. Sedangkan enzim fumarat hidratase adalah enzim yang berperan dalam reaksi penggabungan satu molekul H2O kepada molekul asam fumarat dan membentuk asam malat.
5. Isomerase
Enzim yang termasuk golongan ini yang bekerja pada reaksi perubahan intramolekul, misalnya reaksi perubahan glukosa menjadi fruktosa, perubahan senyawa L menjadi senyawa D, senyawa cis menjasi trans. Enzim yang termasuk dalam golongan ini adalah ribolusafosfat, epimerase dan glukosafosfat isomerase. Enzim ribulosa epimerase merupakan katalis bagi reaksi epimerisasi. Dalam reaksi ini ribulosa-5-fosfat diubah menjadi xilulosa-5-fosfat. Enzim glukosafosfat isomerase juga merupakan katalis bagi reaksi ipemerisasi glukosa, dalam reaksi ini glukosa-6-fosfat diubah menjadi fruktosa-6-fosfat.

6. Ligase
Enzim yang termasuk dalam golongan ini bekerja pada reaksi-reaksi penggabungan dua molekul, oleh karena enzim-enzim tersebut sintetase. Ikatan yang terbentuk dari penggabungan tersebut adalah ikatan C-O, C-S, C-N atau C-C. contoh enzim golongan ini yaitu glutamine sentetase dan piruvat karboksilase. Enzim glutamine sintetase yang terdapat dalam otak dan hati merupakan katalis dalam reaksi pembentukan glutamine dari asam glutamat. Enzim karboksilase bekerja dalam reaksi pembentukan asam oksaloasetat dan asam piruvat.

Manfaat belajar Mata Kuliah Manajemen Teknologi Informasi

Dewasa ini, teknologi bukan menjadi hal yang lumrah bagi seluruh masyarakat. Karena hampir semua golongan masyarakat memakai hasil dari perkembangan teknologi. Dari teknologi inilah dapat mempermudah aktivitas-aktivitas yang dijalani. Pada semester 3 ini, kami mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas mendapatkan mata kuliah “Manajemen Teknologi Informasi”. Terdiri atas 3 dosen pengajar, yaitu Kak Anca, Kak Imam, dan Bu Ayu. Jadwal mata kuliah ini adalah setiap hari senin jam 15.00 di ruangan KA 102.
Dari judulnya saja kita sudah bisa menebak, kenapa kita harus mempelajari manajemen teknologi informasi. Karena seorang calon ahli gizi selalu perlu ‘update’ dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan basic ilmu kami. Tujuan dari mempelajari Manajemen Teknologi Informasi adalah untuk memaksimalkan kita dalam ber-teknologi-ria, memanage kita bagaimana agar mendapatkan hasil atau informasi yang kita butuhkan. Sehingga ketika kita melulusi mata kuliah ini, diharapkan dapat mempermudah mendapatkan informasi dengan berbagai cara dalam pengaplikasian di teknologi.
Adapun materi-materi yang disampaikan pada mata kuliah ini sangat beragam. Dimulai dari cara mendapatkan jurnal yang baik dan berkualitas, sehingga kita dapat maksimal dalam pembuatan presentasi yang berreferensikan jurnal yang ‘aduhai’. Kemudian kita juga mempelajari berbagai macam software-software yang berkaitan dengan ke-gizi-annya, misalnya nutrisurvey, antroWHO, dan lain-lain. Materi-materi ini dipahami dengan menggunakan metode SCL (Student Center Learning) sehingga mahasiswa yang berperan aktif dalam kegiatan perkuliahan.
Manfaat yang saya rasa setelah mendapatkan mata kuliah Manajemen Teknologi Informasi tentunya sangat banyak. Ini mempermudah kita dalam menyelesaikan tugas-tugas selain tugas mata kuliah ini. Menambah pengetahuan yang belum saya tahu sebelumnya sehingga bisa lebih mudah mengerjakan tugas yang awalnya dianggap susah. Dan kedepannya pun manfaat dari mempelajari MTI ini akan semakin terasa, karena banyak tugas yang pada dasarnya membutuhkan apa yang sudah dipelajari di MTI.

Penilaian Status Gizi secara Antropometri

Penilaian status gizi seseorang dibagi menjadi dua, yaitu penilaian secara langsung dan tidak langsung. Maksudnya langsung disini, ketika seseorang dinilai status gizi nya dengan metode langsung maka kita akan langsung mengetahui keadaan status gizi orang tersebut. Nah, salah satu penilaian status gizi secara langsung adalah Antropometri.
Antropometri adalah pengukuran ukuran tubuh. berbagai macam ukuran tubuh diukur, dan itu merupakan indikator dari status gizi seseorang. untuk lebih mengetahui bagaimana itu penilaian status gizi secara antropometri mari kita bahas apa saja yang termasuk psg secara antropometri.
a. IMT (Indeks Massa tubuh)
Saat ini indeks massa tubuh (IMT) sudah mulai banyak digunakan untuk menentukan status gizi orang dewasa di rumah sakit, namun penelitian terhadap status gizi penderita hiperlipidemia belum banyak dilakukan. Penelitian-penelitian menegnai status gizi dengan menggunakan indeks lingkar lengan atas telah banyak dilakukan terhadap anak-anak, wanita usia subur dan ibu hamil, namun penelitian terhadap orang dewasa secara umum baik laki-laki maupun perempuan khususnya penderita hiperlipidemia belum banyak dilakukan, padahal alat yang digunakan untuk pengukuran ini relatif lebih sederhana dan murah jika dibandingkan dengan pengukuran tinggi badan dan berat badan, sehingga untuk penentuan status gizi secara cepat lebih efisien .
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai risiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Oleh karena itu, pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal .
Indeks massa tubuh digunakan untuk menilai berat badan terhadap tinggi badan dan dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter persegi (BB/TB). BMI seseorang dapat dengan mudah ditentukan dengan menggunakan nomogram. BMI merupakan indikator komposisi tubuh total yang relatif baik dalam studi populasi dan berkaitan dengan kesehatan. Keterbatasan utama BMI adalah sulit untuk menginterpretasikannya kepada klien dan untuk memproyeksikan perubahan penurunan berat badan yang sebenarnya dengan perubahan BMI. Risiko kesehatan yang berkait dengan obesitas di,ulai pada kisaran BMI 25-30 kg/m2 .
Menghitung BMI pada orang yang diamputasi. IBW perlu disesuaikan dengan memperhatikan berat bagian tubuh yang diamputasi. Penyesuaian berat badan dapat dibuat dari pengetahuan anggota badan hilang. Ekstremitas atas, seluruh lengan 5% (lengan atas 2,7% dan lengan ke depan 1,6%, tangan 0,7%). Ekstremitas bawah, seluruh kaki 16% (paha 10,1%, tungkai bawah 4,4%, kaki 1,5%) .
Pengukuran berat badan digunakan untuk menilai hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, misalnya tulang, otot, lemak, organ tubuh dan cairan tubuh sehingga dapat diketahui status keadaan gizi atau tumbuh kembang anak. Selain menilai berdasarkan status gizi dan tumbuh kembang anak, berat badan juga dapat digunakan sebagai dasar perhitungan dosis dan makanan yang diperlukan dalam tindakan pengobatan .
Tingkat obesitas dikaitkan dengan gaya hidup yang merugikan. Tingkat obesitas cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan sosioekonomi dan berpendididkan kurang. Ada juga beberapa bukti yang menunjukkan bahwa tingkat obesitas lebih tinggi dari mereka yang telah mengalami situasi sosial yang merugikan .
Obesitas adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Proses dasar dalam obesitas adalah akumulasi kelebihan lemak di tubuh sangat berpengaruh negatif. Diagnosis idealnya harus berdasarkan pengukuran yang akurat jumlah lemak yang berlebihan .
Indeks massa tubuh ibu dan berat badan kehamilan diklasifikasikan menjadi rendah, normal dan tinggi. Rendah, BMI 23,0. Usia diperkirakan berdasarkan perode menstruasi terakhir dan USG (dilakukan 86% oleh perempuan, karena USG hanya dilakukan di rumah sakit) .
Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit yang mengakibatkan tidak seimbangnya kemampuan tubuh menggunakan makanan secara efisien yang disebabkan oleh pankreas gagal memproduksi insulin atau terjadi misfungsi tubuh yang tidak bisa menggunakan insulin secara tepat. Penyakit DM terdiri dari DM tipe 1 dan DM tipe 2 masuk dalam kategori penyakit tidak menular. Penyakit DM tipe 2 merupakan salah satu penyebab utama kematian atau sekitar 2,1% dari seluruh kematian. Jumlah penderita DM tipe 2 semakin meningkat pada kelompok umur dewasa terutama umur > 30 tahun dan pada seluruh status sosial ekonomi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar gula darah penderita DM adalah dengan pencapaian status gizi yang baik. Antropometri merupakan salah satu cara penentuan status gizi. Penentuan status gizi yang digunakan adalah pembagian berat badan dalam kg dengan tinggi badan dalam meter kuadrat dinyatakan dalam indeks massa tubuh atau IMT. IMT memiliki kaitan dengan kadar gula darah penderita DM .
Indeks massa tubuh dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar seseorang dapat terkena resiko penyakit tertentu yang disebabkan karena berat badannya. Seseorang dikatakan obese dan membutuhkan pengobatan bila mempunyai BMI di atas 30, dengan kata lain orang tersebut memiliki kelebihan BB sebanyak 20%. Pada laki-laki dan perempuan nilai tekanan darah (sistolik dan diastolik), kolesterol, LDL, triacydgliserol dan glukosa akan meningkat jika nilai indeks massa tubuh meningkat. Akan tetapi, HDL kolesterol akan turun jika nilai indeks massa tubuh meningkat .

b. Prediksi Tinggi Badan
Perkiraan parameter farmakokinetik dan evaluasi status gizi bergantung pada pengukuran yang akurat tidak hanya berat badan tetapi juga tinggi badan. Namun, sejumlah penyakit dapat menyebabkan kesulitan dalam pengukuran tinggi badan secara akurat. Oleh karena itu, berbagai rumus berdasarkan tulang yang tidak berubah panjang telah dikembangkan. Metode-metode termasuk tinggi lutut, panjang lengan dan setengan rentang tangan1.
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Disamping itu tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan, faktor umur dapat dikesampingkan. Pengukuran tinggi badan untuk anak balita yang sudah dapat berdiri dilakukan dengan alat pengukur tinggi mikrotoa (microtoise) yang mempunyai ketelitian 0,1 cm2.
Rata-rata kenaikan tinggi badan pada anak prasekolah adalah 6-8 cm/tahun. Kemudian pada masa remaja terjadi pacu tumbuh adolesen, yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan seperti halnya berat badan. Anak perempuan umumnya memulai pacu tumbuh tinggi badan adolesennya kira-kira pada umur 10,5 tahun dan mencapai puncaknya kira-kira umur 12 tahun. Rata-rata laju pertumbuhan tinggi badan anak laki-laki 10,3 cm per tahun dibandingkan dengan 9 cm per tahun pada anak laki-laki dan 8,1 cm per tahun pada anak perempuan3.
Pada kekurangan nutrisi, berat badan menurun sebelum tinggi badan dan berat menurut umur menjadi rendah. Pengukuran berat dan panjang badan yang tepat betul-betul penting. Skala harus ditera secara teratur. Panjang badan telentang harus diukur di atas papan. Pengukuran panjang dengan menggunakan pita adalah tidak akurat4.
Orang tua sering tidak dapat mengukur tinggi badan mereka karena mobilitas dan kelainan bentuk tulang. Pengukuran tinggi pada lansia terdapat beberapa kesulitan dan kendala karena gangguan tulang belakang, kelumpuhan, cacat dan kondisi lainnya. Salah satu alternatif untuk pengukuran tinggi pada lansia yaitu pengukuran pada tinggi lutut5.
antara tinggi badan ibu dengan status gizi (TB/U) anak. Hal ini diduga karena ibu pendek akibat patologis atau kekurangan zat gizi bukan karena kelainan gen da¬lam kromosom. Orangtua yang pendek karena gen dalam kromosom yang membawa sifat pendek kemungkinan besar akan menurunkan sifat pendek terse¬but kepada anaknya. Apabila sifat pendek orangtua disebabkan masalah gizi maupun patologis, maka sifat pendek tersebut tidak akan diturunkan kepada anaknya. Penelitian ini tidak meneliti faktor-faktor yang memengaruhi tinggi badan ibu sehingga tidak dapat dibedakan apakah tinggi badan ibu saat ini merupakan pengaruh genetik atau karena pengaruh patologis maupun malnutrisi6.
Malnutrisi diperkirakan terjadi pada 25-61% dari semua pasien usia lanjut yang menderita berbagai penyakit. Penurunan berat badan tanpa sengaja >5% di bulan sebelumnya dan penurunan berat badan yang tidak disengaja dari >10% dalam enam bulan sebelumnya dan BMI 60 tahun atau tidak dapat berdiri atau memiliki kelainan bentuk tulang belakang1.
Pengaruh ukuran tubuh dengan ukuran otak pada manusia telah menjadi kontroversi. Berat otak berkolerasi baik dengan luas permukaan tubuh, serta tinggi badan dan berat badan, pada otak yang berusia 25-80 tahun. Hubungan antara tinggi dan volume otak mungkin sangat berpengaruh. Orang yang lebih tinggi memiliki otak yang lebih besar10.
Demi-Span diukur dalam posisi duduk di lengan kiri. Lengan diangkat setingkat bahu dan direntangkan dengan jari diperpanjang. Jarak antara bagian tengah supraternal dan akar jari tengah diukur. Rerata dari 2 pengukuran digunakan untuk memperkirakan tinggi badan dengan persamaan
Men: Height (cm) = 67,51 + (1,29 x demi-span) – (0,12 x age) + 4,13
Women: Height (cm) = 67,51 + (1,29 x demi-span) – (0,12 x age)1.
Arm Span diukur dalam posisi duduk, kedua lengan direntangkan horizontal pada sudut 900 pada bidang datar. Jarak antara ujung jari tengah masing-masing tangan diukur. Rerata dari 2 pengukuran digunakan untuk langsung memperkirakan tinggi1.

c. WHR (Rasio lingkar pinggang dan panggul)
Banyaknya lemak dalam perut menunjukkan ada beberapa perubahan metabolisme, termasuk terhadap insulin dan meningkatnya produksi asam lemak bebas, dibanding dengan banyaknya lemak bawah kulit pada kaki dan tangan. Perubahan metabolisme memberikan gambaran tentang pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak tubuh. Ukuran yang umur digunakan adalah rasio lingkar pinggang-pinggul. Pengukuran lingkar pinggang dan panggul harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan posisi pengukuran harus tepat, karena perbedaan posisi pengukuran memberikan hasil yang berbeda1.
Penumpukan berat tubuh di sekeliling pinggang atau perut dikenal sebagai obesitas abdominal. Pengukuran ini lebih berkaitan dengan risiko berkembangnya penyakit menahun dibandingkan nilai BMI saja. Sindroma metabolik adalah istilah untuk sekumpulan kelainan yang menempatkan pada meningkatnya risiko penyakit menahun. Lingkar pinggang adalah salah satu indikasi terkuat dari apakah anda rentan terhadap sindroma metabolik dan kelainan yang berkait dengannya2.
Simpanan lemak tersebar di dalam tubuh dengan dua pola yang berlainan, android dan ginekoid. Setelah pubertas, pria cenderung menyimpan lemak di daerah abdomen (pola android) sedangkan wanita cenderung menyimpan lemak di sekitar payudara, panggul dan paha. Pria cenderung memiliki bentuk tubuh seperti buah apel dibandingkan wanita, yang bentuk tubuhnya lebih mirip buah pir. Namun, kedua klasifikasi ini banyak memperlihatkan tumpang-tindih3.
Lemak tubuh dapat diukur secara absolut dinyatakan dalam kilogram maupun secara relatif dinyatakan dalam persen terhadap berat tubuh total. Jumlah lemak tubuh sangat bervariasi tergantung dari jenis kelamin dan umur. Umumnya lemak bawah kulit pria 3,1 kg dan pada wanita 5,1 kg4.
Indeks massa tubuh menggambarkan distribusi lemak tubuh yang sifatnya menyeluruh dan dan lingkar pinggang menggambarkan ada tidaknya penumpukan lemak di daerah visceral/sentral yang sering disebut obesitas sentral. IMT dan lingkar pinggang merupakan indikator untuk menilai status obesitas seseorang. Lingkar pinggang diatas normal yaitu 90 cm pada laki-laki dan 80 cm pada wanita5.
Gemuk merupakan suatu kebanggaan dan merupakan kriteria untuk mengukur kesuburan dan kemakmuran suatu kehidupan, sehingga pada saat itu banyak orang berusaha menjadi gemuk dan mempertahankanya sesuai dengan status sosialnya, dalam perkembangan selanjutnya justru sebaliknya kegemukan atau obesitas selalu berhubungan dengan kesakitan dan peningkatan kematian. Persoalan obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan. Kecenderungan terjadinya obesitas berhubungan erat dengan pola makan. Berbagai faktor berperan dalam timbulnya obesitas, tetapi yang paling penting adalah ketidak seimbangan antara masukan makanan dan aktifitas fisik6.
Lingkar pinggul diukur pada bagian yang lingkarnya terbesar dari pinggul dan secara tidak langsung menunjukkan adanya timbunan lemak sub kutan pada daerah pinggul. Biasanya pengukuran lingkar pinggul disertai dengan pengukuran lingkar pinggang, untuk menghitung rasio lingkar pinggang dan pinggul. Rasio lingkar pinggang dan pinggul merupakan metode yang dapat menunjukkan distribusi lemak bawah kulit dan di dalam rongga perut7.
Tingginya ukuran lingkar pinggang berhubungan dengan non kronis penyakit menular, seperti hipertensi dan serum yang tinggi, kondisi diperparah oleh akumulasi perut. Salah satu masalah utama dalam pengukuran tubuh adalah penentuan lingkar pinggang yang memliki lemak yang tinggi. Perubahan bentuk perut mengganggu atau bahkan ukuran lingkar pinggang yang berukuran tidak seperti biasa, yang mengharuskan mencari titik tengah antara tulang rusuk. Pengukuran antropometri yaitu untuk menilai berat badan dan distribusi lemak tubuh yang sangat penting untuk pengambilan diagnosis gizi dan pemantauan obesitas8.
Orang dewasa rentan terhadap obesitas dalam transisi dari masa kanak-kanak/ remaja hingga dewasa. Transisi dari penimbunan lemak tubuh yang terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja dianggap menjadi tahap penting untuk pengembangan obesitas. Prevalensi obesitas pada remaja sangat tinggi dan ini bukan pertanda baik9.
Kelebihan lemak perut dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiometabolik. Pengukuran lingkar pinggang sering digunakan sebagai penanda massa lemak perut karena lingkar pinggang berkolerasi dengan massa lemak perut dan berhubungan dengan risiko penyakit kardiometabolik. Pria dan wanita yang memiliki lingkar pinggang 102 cm dan 88 cm dianggap meningkatkan risiko untuk penyakit kardiometabolik. Kelebihan akumulasi lemak menyebabkan disfungsi metabolik pada organ-organ10.
Pada saat mengukur lingkar pinggang, menggunakan pakaian yang longgar (tidak menekan) sehingga alat ukur dapat diletakkan dengan sempurna. Sebaiknya pita pengukur tidak berada di atas pakaian yang digunakan. Pengukur juga harus menghadap ke subjek dan meletakkan alat ukur melingkar pinggang secara horizontal dimana merupakan bagian yang paling kecil dari tubuh. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat ukur dengan tepat. Dan bagi mereka yang gemuk, daerah yang harus diukur adalah antara tulang rusuk dan tonjolannya.

Serba serbi tentang Karbohidrat

Agar kita dapat bergerak dan melakukan kegiatan sehari-hari, tubuh membutuhkan banyak energi. Kita mendapatkan energi dari apa yang kita makan. Tubuh kita membutuhkan protein, lemak, dan karbohidrat sebagai zat gizi makro. Tapi sumber energi utama berasal dari karbohidrat, yang akan dipecah menjadi glukosa. Karbohidrat akan terbakar menjadi energi jika kita bergerak, atau disimpan di jaringan otot dan lemak jika kita minim gerak (Dian, 2012).
Karbohidrat merupakan bahan yang sangat diperlukan oleh tubuh makhluk hidup di samping lemak dan protein. Senyawa ini dalam jaringan merupakan cadangan makanan atau energi yang disimpan dalam sel. Sebagian besar karbohidrat yang ditemukan di alam terdapat sebagai polisakarida dengan berat molekul tinggi. Beberapa polisakarida berfungsi sebagai bentuk penyimpan bagi monosakarida, sedangkan yang lain sebagai penyusun struktur di dalam dinding sel dan jaringan pengikat (Sirajuddin, 2014).
Fungsi utama dari karbohidrat adalah sebagai penghasil energi, dimana setiap gramnya menghasilkan 4 kalori. Walaupun lemak menghasilkan energi lebih besar, namun karbohidrat lebih banyak dikonsumsi sehari-hari sebagai bahan makanan pokok, terutama pada negara sedang berkembang. Di negara sedang berkembang karbohidrat dikonsumsi sekitar 70-80% dari total kalori, bahkan pada daerah-daerah miskin bisa mencapai 90%. Sedangkan pada negara maju karbohidrat dikonsumsi hanya sekitar 40-60%. Hal ini disebabkan sumber bahan makanan yang mengandung karbohidrat lebih murah harganya dibandingkan sumber bahan makanan kaya lemak maupun protein (Tonang, 2013).
Karbohidrat merupakan zat gizi utama sebagai sumber energi bagi tubuh. Terpenuhinya kebutuhan tubuh akan karbohidrat akan menentukan jumlah energi yang tersedia bagi tubuh setiap hari (Moehji, 2007).
Nama lain dari karbohidrat adalah sakarida (berasal dari bahasa latin saccharum = gula ). Senyawa karbohidrat adalah polihidroksi aldehida atau polihidroksi keton yang mengandung unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan Oksigen (O) dengan rumus empiris total (CH2O)n. Karbohidrat yang paling sederhana adalah monosakarida diantaranya glukosa yang mempunyai rumus molekul C6H12O6 (Sirajuddin, 2014).
Satu gram karbohidrat dapat menghasilkan energi sebesar 4 kilo kalori. Walaupun karbohidrat tidak dianggap esensial seperti halnya asam amino dan asam lemak esensial (Karyadi, 1987)
Karbohidrat biasa disebut juga hidrat arang. Merupakan sumber kalori utama bagi manusia. Kira-kira 80% dari kalori yang didapat oleh tubuh seseorang (terutama masyarakat yang tinggal di kawasan Asia Tenggara) diperoleh dari makanan yang mengandung karbohidrat (Moehji, 2007).
Terbentuknya hidrat arang ini terjadi dalam tumbuh-tumbuhan pada saat fotosintesis. Prosesnya disebut asimilasi. Garis besar proses asimilasi ini sebagai akibat berikut. Melalui mulut daun, masuklah CO2 (karbon dioksida) dan dibawa ke dalam jaringan parensim daun. Oleh butir-butir hijau daun (klorofil), CO2 bersama-sama dengan air yang dihisap oleh akar dari dalam tanah, dengan bantuan sinar matahari akan diubah menjadi zat tepung (Moehji, 2007).
Karbohidrat banyak sekali terkandung dalam bahan pangan, terutama pada bahan pangan yang pokok, juga pada biji-bijian dan buah-buahan. Kebutuhan energy yang diperlukan untuk berbagai kegiatan tubuh (internal maupun eksternal) umumnya dapat terlayani sekitar 50% kalau bahan pangan tersebut dikonsumsi secara layak. Wajarlah kalau para pakar menyebut bahwa tanaman merupakan gudangnya karbohidrat, reaksi yang terjadi didalam tumbuhan dapat dituliskan sebagai berikut (Marsetyo, 2005):
6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2
Berdasarkan susunan gulanya, karbohidat dapat dibedakan menjadi: monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida.
A. Monosakarida (C6H12O6)
Karbohidrat yang tersusun atas satu gugusan atau gula paling sederhana terdiri dari molekul tunggal. Menurut jumlah atom karbon yang dimiliki dapat dibagi menjadi Triosa (3-karbon), Tetrosa (4-karbon), Pentosa (5-karbon), Heksosa (6-karbon). Yang terakhir ini merupakan gula yang terpenting, dalam wujud glukosa, galaktosa, dan fruktosa (Kartasapoetra, 2005):
1. Glukosa merupakan gula yang paling penting bagi metabolisme tubuh, lebih dikenal sebagai gekstora (gula fisiologis), bentuknya yang jadi ditemukan dalam berbagai buah-buahan, jagung manis, sejumlah akar-akaran, dan madu. Selain dari sumber tersebut, glukosa dihasilkan dari hasil cernaan pati.
2. Galaktosa merupakan gula yang tidak ditemukan didalam buah-buahan, akar-akaran, dan madu, atau tidak ditemukan secara bebas di alam, tetapi merupakan hidrolisis dari laktosa.
3. Fruktosa dikenal juga sebagai levulosa atau zat gula yang paling manis jika dibandungkan dengan glukosa dan galaktosa.
B. Oligosakarida
Terdiri dari disakarida, trisakarida, dan tetrasakarida. Dengan demikian maka yang termasuk oligosakarida adalah gula yang mempunyai 2-10 molekul gula sederhana.jelasnya sebagai berikut (Kartasapoetra, 2005):
1. Disakarida (C11H22O11) sebagai contoh :
– Sukrosa atau gula meja tersusun atas molekul glukosa dan fruktosa, sebagai sumbernya yaitu molasis, sorghum, sering pula disebut gula tebu.
– Maltosa atau gula malt/biji berasal dari hasil pencernaan pati dengan melibatkan enzim diastase. Jadi maltosa tidak ditemukan di alam secara bebas.
2. Trisakarida (C18H32O16) sebagai sumber umbi bit, madu.
3. Tetrasakarida (C24H42O21) sebagai sumbernya bit dan kacang polong.
C. Polisakarida, yaitu karbohidrat yang tersusun atas banyak gugusan gula sederhana (monosakarida), ada yang dapat dicerna (tepung/pati dan dekstrin) dan ada yang tidak dapat dicerna (selulosa, hemiselulosa, dan pectin), tidak larut dalam air, umumnya tidak berasa atau berasa pahit.
Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa (Kartasapoetra, 2005):
1. Pati atau tepung, merupakan bentuk karbohidrat yang diperoleh dari sumber biji-bijian, akar-akaran, umbi-umbian, dan buah tanaman (terutama yang belum matang).
2. Dekstrin, merupakan bentuk karbohidrat yang diperoleh sebagai hasil antara pencernaan pati untuk dibentuk menjadi maltose.
3. Glikogen, disimpan dalam hati dan jaringan otot, digunakan untuk pemenuhan energi bagi jaringan tubuh pada saat-saat tubuh menjalani kerja keras atau latihan-latihan berat, glukosa diperoleh sebagai hasil ubahan glikogen dan selanjutnya disirkulasikan ke berbagai bagian tubuh.
4. Selulosa adalah unsur dari polisakarida yang tidak dapat dicerna, tahan terhadap kerja enzim dan berpengaruh pada masssa besar/muatan besar makanan.
5. Pektin, juga merupakan unsur polisakarida yang tidak dapat dicerna, sebagai sumbernya yang utama adalah buah-buahan yang menjadikan kulit buahnya memiliki ketebalan tertentu, fungsi pektin yaitu sebagai laksatifdan sebagai pengental, pengikat dan pembentuk sel makanan.
Polisakarida dapat dibedakan atas (Sirajuddin, 2014):
1. Homopolisakarida yang ketika dihidrolisis menghasilkan satu macam karbohidrat. Polisakarida yang ketika dihidrolisis menghasilkan heksosa disebut heksosan, misalnya glikogen, pati, dan selulosa.
2. Heteropolisakarida yang ketika dihidrolisis menghasilkan beberapa macam karbohidrat. Misalnya, asam hialunorat yang mengandung N-asetiglukosamin dan asam glukunorat.
Adapun fungsi dari karbohidrat diantaranya (Moehji, 2007):
1. Sebagai sumber energi
2. Sebagai sparing action dari protein
3. Untuk membentuk volume makanan
4. Membantu cadangan energi dalam tubuh
Lalu mempunyai fungsi yang lain (Marsetyo, 2005):
1. Melaksanakan dan melangsungkan proses metabolism lemak.
2. Melangsungkan aksi penghematan terhadap protein
3. Menyiapkan cadangan energi siap pakai sewaktu-waktu diperlukan, dalm bentuk glikogen.
4. Mengatur gerak peristaltic usus, terutama usus besar.
Juga mempunyai fungsi sebagai berikut (Asmadi, 2008):
1. Sebagai sumber energi utama bagi tubuh.
2. Penting untuk metabolism lemak normal karena jika karbohidrat kurang, maka lemak digunakan sebagai sumber energi.
3. Pada hati, glucorinic acid mempunyai fungsi yang penting dalam pengikatan racun kimia dan bakteri.
4. Penting dalam mempertahankan integritas fungsi sel saraf dan sebagai sumber energi otak.
5. Sisa laktosa dalam usus lebih lama daripada disakarida, sehingga mempermudah pertumbuhan bakteri yang menguntungkan. Laktosa ini berfungsi sebagai laksatif serta sintesis vitamin B kompleks dan vitamin K.
6. Selulosa (karbohidrat yang tidak dicerna) membantu dalam eliminasi yang normal karena merangsang gerakan peristaltik saluran pencernaan dan absorbs air sehingga feses menjadi padat.
7. Makanan yang banyak mengandung karbohidrat (sereal) juga memberikan suplai protein, mineral, dan vitamin B dalam jumlah yang bermakna.
Fungsi karbohidrat sebagai penghemat protein menurut (Marsetyo, 2005) pada point ke 2, dalam hal ini terbatasnya pemasukan kalori dalam keadaan tak mencukupinya energi yang harus tersediakan oleh karbohidrat untuk melangsungkan berbagai kegiatan tubuh, dapat menyebabkan pembakaran asam amino terlalu banyak, disamping pembakaran lemak. Pembakaran-pembakaran mana tidak lain hanya untuk mencukupi kebutuhan energi energi. Akan tetapi apabila energy telah tersedia dengan cukup oleh karbohidrat maka orang tidak akan menderita kehilangan banyak asam amino, sehingga protein dapat menglangsungkan fungsinya dengan baik, atau dengan perkataan lain, pembangunan dalam tubuh tidak mengalami gangguan karena protein tidak mengalami gangguan karena protein tidak mengalami kekurangan unsure pembangun molekul-molekulnya, yaitu asam amino (Marsetyo, 2005).
Lalu adapun yang lain, sumber karbohidrat diantaranya (Marsetyo, 2005):
1. Jenis padi-padian:
– Beras – Cantel
– Gandum – Jagung
2. Jenis umbi-umbian:
– Kentang – Singkong
– Ubi
3. Jenis kacang-kacangan:
– Kacang tanah
– Kacang kedelai
4. Jenis buah-buahan:
– Tomat
– Pisang

Kenapa harus jauh? Kenapa harus Ilmu Gizi?

Sebelumnya saya mau ngenalin diri dulu yak. Nama saya Muhamad Aryadipa Surya Nugraha, panjang emang, tapi kalian cukup panggil saya arya atau dipa. 5 Oktober 1995, yang 2 hari lagi genap 19th. Pria berkebangsaan Indonesia (tentunya), ber-suku Sunda, lahir dan besar di Bandung, tapi sekarang lagi menuntut ilmu di Kota “daeng” Makassar.
Pasti pada nanya ya, kok orang bandung tapi kuliah jauh-jauh sampe di Makassar? Iya sih kalo dipikir-pikir emang aneh juga. Padahal di Bandung juga banyak kan universitas, malah keitungnya lebih berkualitas daripada disini. Singkat cerita, memang cita-cita saya kuliah di Institut Teknologi Bandung, dimulai dari SNMPTN sampai SBMPTN ITB berada di pilihan satu saya. Di tes tulis SBMPTN kemarin, saya dikasih saran sama orang tua saya untuk masukin Universitas Hasanuddin di pilihan ketiga dan jurusan yang saya pilih adalah Ilmu Gizi. Dalam pikiran saya ya itu cuman untuk cari aman aja lah, gak kepikiran sebelumnya untuk kuliah disini.

Jreng jreng pas saat pengumuman dibuka, saya kaget bukan main kalo saya lolos di pilihan ketiga. Disatu sisi bersyukur masih dikasih kesempatan untuk lolos di PTN Negeri, satu sisinya bingung bet. Edan, makassar jauh men jauh! Kenapa harus jauh ya? Banyak juga pertimbangannya sih. Pertama, ada tante disini, jadi ya gak usah ngeluarin uang buat kos. Kedua, SPP murahnya gak ketulungan men! Mungkin hampir 10%nya dari SPP PTS yang mau saya ambil di Bandung. Ketiga, latihan buat jauh dari orang tua coy. Secara kan saya punya impian juga buat kuliah diluar negeri, jadi ya sekalian pemanasan gitu :D. Keempat, Universitas Hasanuddin adalah salah satu PTN yang terakreditasi A (Fyi hanya 5 PTN yang dapet akreditasi A, yaitu ITB, UI, IPB, UGM, dan UNHAS). Nah atas pertimbangan itulah akhirnya saya putuskan untuk kuliah disini, lagian kan sayang juga kalo gak diambil..

Next, kenapa harus ilmu gizi ya? Secara mungkin masih banyak jurusan lain yang lebih ‘ngetrend’ di banding ilmu gizi. Saya juga gak sengaja ambil ilmu gizi sih, karena waktu itu pas di pilihan ketiga saya bingung mau ambil jurusan apa, tiba-tiba tangan saya langsung pencet tombol ilmu gizi dan mem-fix-kan pilihannya :D. Mungkin gara-gara saya sering menonton acara reportase sore, atau acara semacam itulah sampai-sampai saya bisa ambil jurusan ini. Pasti dalam acara itu kan ada seseorang yang diwawancara, dan yang diwawancara itu pasti seorang Ahli Gizi. Dan menurut saya waktu itu, ahli gizi its cool men. Kerja di lab-lab, meneliti makanan, dan diwawancara sama acara reportase wkwk. Ohya, fyi juga kalo ilmu gizi di unhas itu akreditasinya A (prodi ilmu gizi di Indonesia yang memperoleh akreditasi A hanya 2, yaitu Ilmu Gizi Unhas dan IPB)

“Gizi itu seksi” menurut prof. Acha (salah satu guru besar FKM unhas, dan konsultan WHO) adalah kalimat yang paling saya ingat, dan paling mengesankan. Whoaa mangstab! Dan setelah kurang lebih selama 1,5 tahun kuliah disini, saya yakin bahwa saya tidak berada di jurusan yang salah. Ilmu Gizi itu indah men, Ahli Gizi itu keren (meskipun masih jarang)! Dari pengolahan bahan makanan, jenis-jenis makanan, kandungan gizi yang dikandungnya, penyerapan zat gizi dari masuk sampai keluarnya lagi, menilai status gizi seseorang, penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh masalah gizi, dan masih banyak banyak lagi.

Logika nya nih ya, semua orang dari bayi sampai manula, dari negara maju sampai negara kurang maju (gak tega bilangnya), dari presiden sampai rakyat-rakyatnya butuh asupan gizi. Itu yang menurut saya kenapa ‘gizi’ menjadi hal dasar yang sangat menentukan kualitas hidup. Mempelajari ilmu gizi, dan menjadi ahli gizi nanti nya insyaallah bisa memperbaiki kualitas bangsa dari hal yang paling dasar. Nah, udah sadar kan kalo ilmu gizi itu keren?

Pemanasan



Assalamualaikum. Setelah sekian lama hanya melihat-lihat blog orang lain, akhirnya kini saya mempunyai blog sendiri. Ya meskipun alasan membuat blog ini hanya sebagai suatu persyaratan dalam mata kuliah Manajemen Teknologi Informasi, tapi saya rasa menjadi seorang ahli gizi kedepannya akan sangat membutuhkan media seperti blog ini. Biarkan saya berkreativitas, berkreasi dan menyebarkan informasi dalam blog ini. Well, semoga bermanfaat! 😀

welcome